Thursday, April 2, 2009

Ketika Rakyat Kecil ingin menjadi Caleg

Do you want to share?

Do you like this story?

Jadi penggemar di Facebook ...
Bagikan artikel ini ..
Namanya saja DEMOKRASI.. mungkin, kata-kata itu yang tepat dapat diucapkan dalam era PEMILU kali ini, jangan sangka rakyat kecil seperti , pedagang asongan, tukang parkir, penjual sate, penjual kambing , penjual koran, pengamen , dll. Mereka mencalonkan diri menjadi caleg (calon anggota legislatif) , hal ini , menjadi sangat kontras dimasyarakat, mereka menganggap diri mereka BISA ! , bersaing dengan orang-orang berduit yang telah berpengalaman menjadi LEGISLATOR, mungkin saja mereka lah yang membawakan aspirasi kita di dewan perwakilan rakyat daerah/provinsi/RI. Mereka siap untuk menuju ke sana , dengan pangsa pasar dari kalangan mereka sendiri. Beberapa caleg tersebut yakni :

Tukang Cuci Motor dan Tukang Parkir jadi CALEG

Liputan6.com, Kudus: Menjadi calon wakil rakyat tak selalu identik dengan modal yang banyak. Di Kudus, Jawa Tengah, seorang tukang cuci motor mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Ia adalah Djoko Prihatin.

Seperti namanya, ia ingin menjadi caleg lantaran prihatin mendengar keluh kesah para pelanggannya yang dari kalangan bawah. Setelah mengumpulkan modal dari usaha cuci motornya, kader Partai Amanat Nasional selama 11 tahun ini akhirnya mencalonkan diri.

Selain Djoko, ada juga Sukardji. Juru parkir yang sudah berumur ini berniat memperhatikan serta memprioritaskan peningkatan kesejahteraan rakyat kecil bila terpilih nanti.

Tak banyak uang yang dimiliki caleg Partai Demokrasi Pembaruan nomor urut empat ini dalam pencalonan dirinya. Modalnya cuma ikatan batin dengan kaum miskin lainnya. Mendekati orang satu demi satu dan menjelaskan programnya.

Kehadiran Djoko dan Sukardji di bursa caleg bisa jadi merupakan indikasi kejenuhan rakyat yang selama ini dimanfaatkan para politikus untuk mendulang suara. Setelah kampanye dan Pemilu berakhir, berakhir pulalah janji manis mensejahterakan mereka. Tapi,menjadi anggota dewan juga bukan perkara mudah bagi orang yang awam politik.(BOG/Tim Liputan 6 SCTV)

Penjual Sate Menjadi Caleg

Liputan6.com, Kendal: Menjadi calon anggota legislatif tak harus bermodal banyak. Sriati, perempuan penjual sate nekat jadi caleg DPRD Kendal, Jawa Tengah. Sriati memanfaatkan profesinya untuk kampanye. Kini, gerobak satenya banyak terpampang stiker wajahnya.

Lain lagi di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Seorang petani bernama Muhamad Yasin juga nyalon. Dengan keterbatasan modal, persawahan dan teman-temannya tentu menjadi sasaran sosialisasi dan kampanye.

Kehadiran orang-orang kecil di bursa caleg bisa jadi merupakan indikasi kejenuhan rakyat yang selama ini dimanfaatkan para politikus untuk mendulang suara. Namun tanpa modal politik yang kuat menjadi anggota Dewan juga bukan hal mudah bagi orang awam.(JUM/Tim Liputan 6 SCTV)

Pengamen Jalanan Jadi Calon Anggota DPR

TANGERANG - Bagi anda yang pernah makan di warung kali lima sekitar Tangerang mungkin tak asing lagi dengan wajah Herdy Aswaudi atau dikenal Edi Bonetsky (35). Pria ini adalah pengamen di Kota Tangerang. Mungkin anda salah satu yang pernah bertemu dan menikmati alunan gitarnya saat makan di pinggir jalan.

Namun siapa sangka, ternyata pengamen ini adalah calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat nomor urut lima dari Partai Bulang Bintang, dengan daerah pemilihan Banten. Tentu saja latar belakangnya berbeda dengan latar belakang calon anggota DPR lainnya.

Kebanyakan latar belakang calon anggota DPR adalah pengusaha, politisi, keluarga politisi, aktivis sampai pengacara.

Saat ditemui okezone di rumah saung "Anak Langit" di bantaran Sungai Cisadane, Sabtu 10 Januari kemarin, Edi mengaku bukan keinginannya maju sebagai calon anggota DPR.

Edi mengaku didorong rekan-rekannya dari yayasan Persaudaraan Anak Jalanan Indonesia (Panji). Panji memutuskan harus ada seniman jalanan yang duduk sebagai wakil rakyat di tingkat pusat untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Namun, dia mengaku masuknya sebagai anggota DPR bukan untuk merubah sistem. "Sangat sulit untuk merubah sistem jika di sekelilingnya tetap didominasi orang-orang muka lama yang tidak pro terhadap masyarakat marjinal," katanya.

Meski begitu dia mengaku akan tetap melangkah untuk memperjuangkan kaum marjinal yang selalu ditindas melalui perda-perda.

Selain didukung Panji, dia juga mengaku banyak didukung musisi-musisi terkenal. Namun, dia tidak mau menyebutkan siapa saja nama musisi tersbeut. Dia hanya menunjukkan SMS dukungan kepada okezone. "(Musisinya) cukup dikenal dan memiliki banyak penggemar," katanya.

Penjual Jus jadi CALEG

Bermodal keyakinan dan kemauan keras, Rafiuddin, penjual jus di Pare-pare, Sulawesi Selatan mengajukan diri menjadi Caleg. Orang ini berjualan Jus di kota Pare-pare , dan dirinya berjanji akan mensejahterakan pedagang - pedagang septinya. *fkr





Penjual Nasi Bungkus Mantap Jadi Caleg PBB

SEMARANG - Sulistiyo Widarto seorang penjual nasi bungkus di alun-alun Kota Demak akhir-akhir ini seringkali menjadi buah bibir. Bukan karena rasa nikmat barang dagangannya namun karena statusnya sebagai salah satu calon anggota legislatif yang bertarung di Pemilu 2009.

Kesederhanaannya menepis anggapan bahwa untuk menjadi caleg harus bermodal besar. Penghasilannya sebagai penjual nasi bungkus menurut pria kelahiran 1 Desember 1970 ini diakui hanya cukup untuk makan sehari-hari.

"Banyak yang mengejek dengan kenekatan saya menjadi caleg. Mereka bertanya apakah punya uang banyak. Tapi saya tidak mau meladeni pertanyaan seperti itu. Lebih baik saya diam atau mencari dukungan," kata pria yang sering disapa Blangkon, Kenthir atau Lilik ini.

Kemarin malam dia menceritakan asal usul mengapa bisa menjadi caleg DPRD Kabupaten Demak. Satu sore ada seorang caleg provinsi dari Partai Bulan Bintang datang ke warung nasinya. Dia bermaksud menempelkan stiker kampanye di gerobaknya.

"Entah kenapa saya langsung tertarik dengan partainya dan langsung bergabung. Sebelum meninggalkan gerobak saya, dia memberi sebah kartu nama," ceritanya.

Selang beberapa hari Lilik nekat meghubungi caleg provinsi tersebut dan menyatakan ingin menjadi caleg di DPRD Kabupaten Demak. Tak disangka keinginannya itu disambut baik dan disuruh mengumpulkan persyaratan.

Saat itu waktu pendaftaran tinggal dua hari. Meski sempat pontang-panting Lilik akhirnya lolos sebagai caleg dari PBB. Dia ditempatkan di Dapil 1 dengan nomor urut 1.

Apa motivasi Lilik mendaftarkan diri menjadi caleg? Suami dari Denok tersebut mengatakan ingin memperjuangkan nasib warga kecil terutama para pedagang dengan modal minim.

"Saya merasakan bagaimana susahnya mencari penghasilan. Saya pernah digusur ketika membuka warung makan lesehan di alun-alun dan dipaksa relokasi ke tepian Kali Tuntang yang sepi pembeli," jelas Lilik.

Lilik menolak jika hanya bermodal nekat saja. Dia memiliki pengalaman politik yang panjang karena sejak 1999 adalah kader sebuah partai politik berideologi nasionalis. Namun satu saat dia merasa dikecewakan dan langsung mundur dari partai tersebut.

Sekarang ini Lilik sedang getol-getolnya memperkenalkan dirinya terutama pada pembeli nasi di warungnya. Ternyata banyak yang awalnya tidak percaya. Namun setelah ditunjukkan stiker kampanye bergambar dirinya, mereka langsung percaya.

Rencananya Lilik akan melakukan kampanye simpatik dengan membagikan nasi bungkus gratis pada warga Demak.

"Kalau nanti terpilih, saya akan mengadakan syukuran. Saya akan memborong semua nasi bungkus yang dijual di alun-alun untuk dinikmati bersama-sama," ucap pria asli kelahiran Demak itu.

(fit)

dipostingkan kembali dari:
http://www.achmadzulfikar.co.cc/2009/04/caleg-dari-rakyat-kecil.html

baca juga artikel ini :

0 komentar:

Post a Comment

Advertisements

Advertisements