Saturday, September 18, 2010

Keterangan Pers SBY terhadap Insiden di Bekasi

Do you want to share?

Do you like this story?

Jadi penggemar di Facebook ...
Bagikan artikel ini ..
Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 14 September 2010
Keterangan Pers tentang Insiden di Bekasi

TRANSKRIPSI
KONPERENSI PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
TENTANG INSIDEN DI BEKASI
KANTOR PRESIDEN, 14 SEPTEMBER 2010

Saudara-saudara,

Saya merasa prihatin dengan insiden yang terjadi di Bekasi, pada hari Minggu tanggal 12 September 2010 yang lalu, sebuah tindakan kekerasan terhadap jamaat HKBP yang dalam perjalanan untuk menjalankan ibadah mereka.

Mengapa saya prihatin? Karena justru kita harus senantiasa menjaga kerukunan dan hubungan baik di antara umat beragama dan kita mencegah aksi-aksi kekerasan di masyarakat kita. Meskipun beberapa menit setelah itu saya telah mendapatkan laporan dan segera setelah itu kita pastikan sistem telah bekerja, jajaran kepolisian telah bertindak dan Menko Polhukam waktu itu menyampaikan kepada saya memang belum diketahui motif dari kekerasan atau kejahatan itu. Oleh karena itu benar yang kita utamakan adalah untuk mencari dan menemukan pelaku dari kekerasan itu.

Namun mengingat masalah ini sungguh sensitif dan memerlukan perhatian yang seksama sampai pada tingkat saya, tingkat Presiden, oleh karena itu saya ingin memberikan penjelasan yang lebih utuh kepada masyarakat luas.

Pagi ini Menko Polhukam, Kapolri, dan Sekjen Kementerian Agama, karena Menteri Agama sedang berada di luar kota, telah menyampaikan laporan dan penjelasan yang lebih lengkap kepada saya, tentang kejadian itu sekaligus latar belakang dari permasalahan yang ada.

Saudara-saudara,

Secara garis besar sebagaimana yang dilaporkan kepada saya pagi ini adalah ada permasalahan yang berkaitan dengan tempat ibadah bagi jamaat HKBP, sebenarnya rumah yang dijadikan kegiatan agama itu oleh warga di kompleks perumahan itu selama 19 tahun telah diberikan, katakanlah, toleransi untuk melakukan kegiatan ibadah agama, karena masyarakat berpedoman bahwa perumahan tentu bukan rumah ibadah. 19 tahun tidak ada masalah apa-apa. Namun demikian ketika jamaat itu makin besar dan kegiatan ibadahnya makin intens maka warga berpendapat sebaiknya dicarikan tempat lain untuk menjalankan ibadah itu.

Nah, sampai titik itu sebenarnya tidak ada kekerasan apapun, yang diinginkan adalah sebuah solusi namun ternyata solusi juga tidak selalu mudah didapatkan sehingga Pemerintah Daerah telah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi masalah itu. Tetapi kenyataannya memang belum ditemukan solusi yang tepat, sehingga pada tingkat Pemerintah Pusat pun dipimpin oleh Menko Polhukam sebenarnya sudah dilakukan pertemuan yang lebih terpadu, dengan tujuan sekali lagi mencari solusi yang paling tepat.

Sementara solusi yang diinginkan belum didapatkan, ketegangan masih ada, jamaat dari kelompok HKBP yang ada di situ, memilih untuk beribadah di tempat tertentu dan ini ternyata juga masih menyisakan ketegangan, terjadilah insiden pada hari Minggu 12 September yang lalu itu. Oleh karena itu sekali lagi karena bagi saya ini masalah yang sensitif dan juga cukup serius maka semua pihak utamanya jajaran pemerintah baik pusat maupun daerah perlu mengambil langkah-langkah lanjutan.

Saya mengulangi kembali intruksi saya agar langkah untuk mencari solusi dari perselisihan atau ketegangan seputar tempat ibadah bagi saudara-saudara kita, jamaat HKBP itu, segera dapat ditemukan jalan keluar yang tepat, jalan keluar yang bijak. Saya berharap kembali para menteri terkait, Gubernur Jawa Barat, Bupati Bekasi, Pemuka Agama, tentu dari PGI dan elemen-elemen yang lain, duduklah bersama dengan jernih, dengan niat yang baik, segera temukan jalan keluar yang baik. Saya berharap itu bisa tercapai dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kita ingin benar-benar semua itu bisa tercapai.

Nah yang kedua intruksi saya, bagaimanapun hukum perlu ditegakkan. Tidak ada ruang untuk melakukan kekerasan dari siapapun, kepada siapapun dengan motif apapun, apalagi menyangkut masalah yang sensitif termasuk hubungan antar umat beragama di negeri kita. Apa yang dilakukan oleh kepolisian saya intruksikan terus dijalankan, ungkap, kemudian proses secara hukum, siapa pelaku-pelaku dari kekerasan fisik itu.

Saudara-saudara,
Ini juga kesempatan yang baik untuk saya mengajak, menggarisbawahi dan menekankan hal-hal penting yang berkaitan dengan menjaga kerukunan, toleransi dan hubungan baik antar umat beragama di Indonesia. Yang ingin saya sampaikan pertama adalah saya berharap semua pihak untuk terus mengelola isu hubungan antar umat beragama ini dengan sebaik-baiknya , karena ya ini masalah yang sensitif.

Negara kita negara yang majemuk, kita telah memiliki Undang-Undang Dasar, Undang-Undang dan peraturannya yang memungkinkan siapapun bisa menjalankan kegiatan ibadahnya dengan baik, memeluk agamanya masing-masing tetapi dengan satu hubungan yang baik di antara semua pemeluk agama itu, dalam semangat itu.

Kalau ada masalah-masalah, tetaplah dicarikan solusinya dengan bijak. Jadi maksud saya ada Undang-Undang Dasarnya, Undang-Undang, aturan tapi diperlukan lagi kearifan lokal dan cara-cara yang jernih untuk mengatasi masalah manakala masalah itu timbul. Dan di sini pemerintah utamanya pemerintah daerah yang paling depan harus mengambil peran yang penuh untuk betul-betul bisa mengelola setiap permasalahan dengan tepat dan baik.

Yang kedua, saya menggarisbawahi untuk mencegah tindakan kekerasan, apalagi kekerasan fisik yang bisa mengancam jiwa siapapun di masyarakat kita. Beberapa hari yang lalu ketika dunia digemparkan oleh sebuah rencana untuk membakar Kitab Suci Al Qur’an di Florida, Amerika Serikat yang saya tahu kalau itu terjadi, dampaknya sangat besar, bisa menimbulkan konflik horisontal di semua negara, hampir pasti termasuk di negara kita. Saya menyampaikan dengan tajam dan keras namun terukur kepada pihak-pihak terkait termasuk pemerintah dan bangsa Amerika Serikat, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan siapa saja yang bisa bertindak untuk mencegah tindakan yang tidak masuk akal, yang tidak rasional itu dan tentu sangat membahayakan.

Dalam kaitan ini saya menggarisbawahi pikiran apalagi tindakan untuk merusak, membakar kitab-kitab suci agama manapun tidak dibenarkan. Merusak, membakar rumah-rumah ibadah agama apapun juga tidak dibenarkan, termasuk tindakan fisik, kekerasan kepada umat agama apapun, terutama yang saya garisbawahi adalah yang ada di negeri kita sendiri.

Yang ketiga, saya pihak jangan ada intervensi dari apapun yang justru menimbulkan masalah baru, memperuncing keadaan, mengadu-adu, akhirnya sesuatu yang bisa kita dapatkan jalan keluarnya dengan baik, malah masalah itu berkepanjangan dan makin meluas. Gunakan nurani masing-masing, jangan adalah di antara kita yang berpikiran lain kecuali pikiran yang sehat untuk menjaga harmoni, hubungan baik, dan kerukunan di antara kita semua, termasuk antar umat beragama.

Saya, yang keempat atau yang terakhir, menggarisbawahi peran dari pemerintah daerah, dalam hal ini pimpinan Pemerintah Daerah di Bekasi dan Jawa Barat, lakukanlah semua pendekatan, cara-cara, fasilitasi apapun agar ini bisa segera diselesaikan permasalahannya, ditemukan solusi dan jalan keluarnya. Di negeri ini tidak ada masyarakat atau daerah yang tidak ada pemimpinnya. Makin ke depan, makin cepat tahu, makin mengerti masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya. Tampillah dengan sangat serius untuk mengatasi masalah ini. Dan saya juga mengajak para pemuka agama, PGI dalam hal ini dan pemimpin yang lain, berikanlah bantuan, lakukan kontribusi agar masalah ini segera dapat kita carikan solusinya dengan baik.

Itulah saudara-saudara yang dapat saya sampaikan dan saya berharap, saya minta dukungan semua pihak, kontribusi semua pihak untuk bersama-sama mencari solusi masalah ini dan mencegah masalah-masalah lain ataupun barangkali menangani kasus-kasus seperti ini. Terima kasih atas perhatian Saudara.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan

sumber : http://www.presidensby.info/index.php/pers/presiden/2010/09/14/514.html

baca juga artikel ini :

0 komentar:

Post a Comment

Advertisements

Advertisements